Success Stories | Kisah sukses
PRISMA program success story
―
Kisah sukses program PRISMA
Budidaya ikan lele merupakan industri yang sangat menantang. Terdapat banyak hal yang membuat orang takut untuk terjun ke dunia budidaya lele, mulai dari kelangkaan bibit, harga pakan yang mahal, perubahan cuaca yang ekstrim, penjualan yang sepi, hingga kualitas air yang buruk. Kondisi-kondisi yang tidak terhindarkan ini akan menciutkan nyali wirausahawan yang paling berpengalaman sekalipun. Ibu Nur Aini, peternak lele asal Desa Kersik, memiliki resep untuk menjadikan semua kesulitan tersebut menjadi tak terasa. Resep tersebut adalah “cinta”.
Awalnya Ibu Nur hanya memiliki satu kolam yang dihibahkan dari program PRISMA. Berkat keuletannya, kini dia memiliki 6 kolam yang masing-masing mampu menampung minimal 1.500 ekor ikan lele. Berkat pelatihan teknis budidaya lele dari program PRISMA, dia berhasil meminimalisasi tingkat kematian bibit ikan hingga di bawah 10%. Ini merupakan pencapaian yang luar biasa mengingat rata-rata tingkat kematian bibit adalah 30%.
Selama hampir 2 tahun menjalani usaha budidaya lele, Ibu Nur mengakui bahwa dia bisa menabung untuk menyekolahkan anaknya yang masih di pesantren hingga ke jenjang kuliah. Dalam satu kali panen, dia bisa menjual hingga 200 kg lele dengan harga Rp18.000 hingga Rp19.000, tergantung harga pasar. “Dengan ketekunan, keinginan untuk terus belajar, dan semangat, siapapun yang berkecimpung dalam dunia budidaya lele pasti akan bisa menghasilkan dan meraih untung,” tuturnya. Keberhasilan Ibu Nur dalam berbudidaya lele menjadikannya sebagai panutan di induk kelompok binaan Cipta Etam, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur. Dia seringkali dipromosikan oleh pengepul ikan lele sebagai pembudidaya yang berhasil di Desa Kersik.

“Kecintaan terhadap budidaya lele menjadi semacam suntikan semangat bagi Ibu Nur dalam bekerja. Ketika tubuh penuh dengan peluh keringat dan dihantam kelelahan, rasa cinta menyuntikkan lagi energi ke dalam diri Ibu Nur untuk terus berjuang dan tidak menyerah dalam berbudidaya lele.”

“Cocoa plant, if properly maintained will produce high yields and give profit to farmers. Though we are just small people, with the collaboration and assistance of Sahabat Cipta, we become great and it is through cocoa production. What a blessing.”
SCFAFM program success story
―
Kisah sukses program SCFAFM
As the Head of Wolokisa Village, I knew that cocoa is a promising commodity. Wolokisa and nearby villages had many cocoa trees, unfortunately the yield was very low. The cocoa farms were like forest; the trees were old and poorly treated. In the past, cocoa farming was considered as side business only.
Sahabat Cipta, through SCFAFM project supported by Ford Foundation, offered us opportunities to take part in the cocoa farmer field school. The training topics range from cocoa cultivation management, nurseries, financial literacy, harvest & post-harvest management to collective marketing and sustainable agriculture. Sahabat Cipta introduced to the local community that cocoa is a superior commodity, moreover it is a world food resource.
Now, the local community is actively involved in cocoa farming, and treats it as the main family business. This will drive the economy in Mauponggo sub-district further. The presence of Nagakeo CLC in Wolokisa is a great help and a great hope for us to move forward. Sahabat Cipta and its project assistance is a great blessing for us. Thank you Sahabat Cipta.”
PERKASA program success story
―
Kisah sukses program PERKASA
Selalu penuh semangat, Ibu Maidah, 68 tahun, setiap hari ke kebun. Sejak suaminya meninggal, Ibu Maidah bekerja sendiri di kebun, bahkan menyemprot. Beliau memiliki 6 orang anak. Anak-anaknya tinggal di lain kota. Anak perempuannya salah satunya Ibu Mardianah yang memiliki 2 orang anak, suaminya juga telah meninggal dunia, bekerja sebagai buruh tani. Mardianah tidak bisa membantu ibunya di kebun karena harus mencari penghasilan sebagai buruh di sawah.
Kondisi kebun Ibu Maidah memerlukan rehabilitasi karena tanaman sudah tua. “Iya, saya berencana mengganti kakao dengan menanam jagung terlebih dahulu di separuh lahan kebun saya, baru kemudian ditanam kakao. Separuh lahannya tetap ada kakaonya, supaya bisa tetap ada penghasilan, kemudian bergantian direhabilitasi”, ujarnya.
Ibu Maidah menerima bantuan pupuk dari proyek. Coaching yang dilakukan di kebunnya juga sangat intensif oleh petani pemandu yang dibantu pula oleh para fasilitator proyek. Produksi kakaonya meningkat dari sebelumnya 360 kg/tahun menjadi 776 kg/tahun
